Cerita Lain Dari Relief Candi Penataran Jawa Timur -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Cerita Lain Dari Relief Candi Penataran Jawa Timur

Referensi
Thursday, 6 July 2017
Pembuatan sebuah candi biasanya bertujuan sebagai sarana pemujaan kepada dewa-dewa yang sebagian tergambar pada relief-relief yang berada di sekitar candi tersebut. Namun pernahkah terfikir oleh anda bila relief-relief ini justru memiliki arti lain misalnya mengenai peradaban kita yang ada di nusantara. Terletak di Kecamatan Nglegok Blitar Jawa Timur berdiri Candi Penataran yang dibangun pada tahun 1.194 oleh Raja Srengga. Sang raja memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1.190 hingga 1200 masehi.

Image : wikipedia.org

Candi penataran merupakan candi termegah dan terluas di Jawa Timur. Berada di tanah seluas hampir 13.000 meter persegi, candi ini berjajar dari barat laut ke timur dan tenggara. Candi Penataran juga disebut Candi Palah. Pembangunannya dilakukan secara bertahap oleh tiga kerajaan yang berbeda, dari masa Kerajaan Kediri hingga Kerajaan Majapahit. Memasuki halaman gerbang candi, pengunjung disambut Archa Dwarapala yang menjadi penjaga pintu candi. Pada kedua archa ini terdapat pahatan angka tahun 1242 saka atau 1320 masehi yang diyakini sebagai tahun diresmikannya candi pada masa pemerintahan Jayanegara dari Majapahit.

Baca Juga :
Candi Singosari, Bukti Peninggalan Kerajaan Singosari
Candi Muara Takus, Peninggalan Terbesar Sriwijaya?

Di Candi Penataran juga terdapat balai agung pendopo teras candi induk dan prasasti palah. Semuanya memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing. Balai agung menurut N.J. Krom yang seorang sejarawan asal Belanda berfungsi sebagai tempat musyawarah para pendeta pada zamannya. Candi Penataran di lereng barat daya Gunung Kelud dibangun diatas tanah harum dan subur. Candi ini menjadi pusat pertemuan setiap daerah dan dekat dengan air. Candi ini dibangun dengan harapan dapat menangkal penduduk dari bencana Gunung Kelud.

Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Djoko Adi pernah menuturkan bahwa ‘’Terkait dengan masalah penolak balak dan tidak, itu sebenarnya secara akademis menunjukkan bahwa bangunan suci dibangun, khususnya candi, itu tergantung daripada fungsi. Nah, kalau fungsi disini itu sebagai tempat peribadatan, maka bangunan itu dipergunakan sebagai tempat peribadahan.’’ Di dalam komplek peninggalan masa silam ini terdapat Candi Angka yang lebih dikenal masyarakat Jawa Timur sebagai Candi Brawijaya yang juga menjadi lambang Kodam V Brawijaya.

Selain menjadi tempat beribadah, Candi Penataran diperkirakan menjadi tempat perabuan Ken Arok. Dugaan ini timbul karena kesamaan nama Giri Indra yang disebutkan dalam kitab Negara Kertagama. Bangunan di komplek Candi Penataran ini terdiri dari tiga teras tersusun dengan tinggi tujuh meter lebih. Pada teras pertama terdapat penggambaran cerita tentang Ramayana yang mengikuti arah Prasawiya dari sudut barat laut. Relief yang terdapat pada candi di Jawa Timur biasanya dipahat berdasarkan analogi riwayat hidup tokoh yang diprabukan.

Kisah Ramayana dan Krisnayana misalnya, terdapat pada dinding Candi Penataran dan ditafsirkan mirip dengan kisah Ken Arok serta Ken Dedes. Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam reliefnya. Gaya relief candi ini berbeda dari candi di Jawa Tengah sebelum abad kesebelas. Beberapa wujud relief kekhasannya digambarkan mirip dengan wayang kulit. Seperti yang dapat dijumpai pada gaya pengukiran relief di Candi Sukuh yang merupakan candi dari masa akhir periode Hindu-Budha.

Menarik pada Candi Penataran terdapat gambaran tentang masa lain, diantaranya gambaran tentang bangsa lain. Diantaranya gambar Bangsa Han atau Tiongkok, Bangsa Campa, Maya dan Yahudi. Bangsa Yahudi terlihat tunduk dan menyerah pada nenek moyang kita. Gambaran ini menimbulkan pemikiran bahwa nenek moyang kita pernah melakukan invasi hingga ke Benua Amerika dan mengalahkan Bangsa Indian serta sempat berperang dengan Bangsa Maya.

Pada salah satu relief terdapat sosok patung prajurit Bangsa Maya dari Kerajaan Copan yang saat ini terletak di Honduras. Terdapat juga relief pakaian dan asesoris kepala yang mirip bangsa di Turki, India hingga Pakistan. Pada relief lain juga tergambar peperangan leluhur kita dengan bangsa lain di dunia. Timbul Pertanyaan, apakah leluhur kita sudah memiliki peradapan sejak 6500 tahun yang lalu. Pada relief juga terdapat gambar Gajah zaman purba yang menurut para ahli Amerika sudah punah 6500 tahun yang lalu.

Djojo Adi kembali melanjutkan ‘’Sehingga tidak salah kalau tadi dikatakan dalam relief itu ada yang seolah-olah bahwa etnis tertentu itu menunjukkan penghormatannya kepada bangsa nusantara ini. Jadi memang itu sudah selayaknya seperti itu.’’ Candi Penataran atau Candi Palah kini menjadi tujuan wisata di Blitar. Hubungan tiga kerajaan dengan Tuhan terlihat di komplek candi ini. Relief dapat menjadi sebuah penggambaran mengenai cerita masa lalu leluhur kita, namun dengan hadirnya beragam relief yang menggambarkan tentang kehidupan serta wajah-wajah yang hadir dari seluruh penjuru dunia menghadirkan sebuah pertanyaan yakni sebenarnya apa maksud dan tujuanya.

Mungkinkah dari relief tersebut justru menggambarkan bahwa peradaban yang ada di dunia berasal dari nusantara kita ataukah ini hanyalah sebuah relief belaka tanpa cerita apa-apa. Meskipun demikian sebenarnya ada pengaruh apa jika memang benar peradapan berasal dari kita, apakah ada pengaruhnya bagi kita saat ini dan kedepannya.



Sumber : Rahasia Zaman, Trans7