Mengenal Sejarah Upacara Minum Teh Jepang -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Mengenal Sejarah Upacara Minum Teh Jepang

Referensi
Wednesday, 5 July 2017
Negara Jepang memang memiliki keindahan alam yang indah. Hamparan gunung yang berpadu dengan aliran sungai menjadi pemandangan yang dapat memanjakan mata siapa saja. Selain pemandangan yang dimilikinya, Jepang juga memiliki tanaman yang khas asli yang menjadi kebanggaan setiap masyarakatnya yaitu tanaman teh.

akibanation.com

Minum teh memang menjadi kebiasaan setiap orang dalam menikmati waktu senggang mereka. Rasa khas yang diberikan oleh tanaman ini memberikan suasana santai saat menikmatinya. Namun di Jepang ada sebuah upacara minum teh yang dilakukan dengan suasana yang sangat serius namun juga mengandung sebuah filosofi yang telah mendunia.

Baca Juga :
Menguak Tabir Kedigjayaan Gunung Tambora
Fenomena Karst Gunung Kidul Yang Menakjubkan

Tapi sebetulnya dari mana asalnya upacara minum teh ini dan untuk apa maksud dari filosofi yang terkandung di dalamnya. Teh sudah jadi minuman favorit bagi para penikmatnya. Aroma dan rasa yang timbul dari olahan minuman teh semakin memanjakan lidah para penggemarnya. Dengan mudah mereka dapat menemukan hasil olahan teh di berbagai tempat.

Namun dibalik kenikmatan rasanya, ternyata teh memiliki sejarah kelam dalam perjalanannya. Tanaman yang datang dari negeri tirai bambu Tiongkok ini memiliki nama lain Camellia sinensis. Iklim wilayah Tiongkok yang hangat dan lembab membuat teh tumbuh subur. Sebelum menjadi sebuah minuman, tanaman teh sudah digunakan selama bertahun-tahun oleh bangsa Tiongkok untuk pengobatan.

Tanaman teh diyakini mampu membantu mengontrol pendarahan, menyembuhkan luka dan memperbaiki pencernaan. Secara perlahan kehebatan dan kelezatan yang dimiliki oleh daun teh menjadi komoditi yang paling diminati di seluruh dunia. Tak heran bila tingginya minat untuk mendapatkan tanaman teh membuat banyak terjadi konflik di masa lampau.

Salah satunya adalah Boston Tea Party, tingginya harga serta rasa yang dihasilkan oleh tanaman teh membuat beberapa negara memberikan apresiasi lebih saat menikmatinya. Negara Rusia, Inggris, Irak, Tiongkok, India dan Jepang mempunyai tradisi dan upacara hanya untuk menikmati minum teh. Tanaman teh masuk ke negara Jepang dibawa oleh seorang pendeta Budha bernama Eisai pada abad ke 12.

Saat pulang dari negara Tiongkok setelah dikirim oleh penguasa ke Jepang. Awalnya teh yang dibawah oleh bikshu Eisai hanya digunakan untuk pengobatan serta ritual keagamaan di Biara Budha Zen. Namun seiring perjalanan waktu, perlahan Ocha atau Teh mulai digemari oleh para raja, bangsawan dan samurai pada abad ke 15 dan ke 16.

Lahirnya upacara minum teh di Jepang tidak terlepas dari ajaran Budha Zen yang menjadi latar belakang datangnya teh ke negara ini. Upacara yang bersifat sangat religius merupakan ritual penghormatan pada tamu dalam suasana kebersamaan. Pada awal kehadirannya di zaman Edo, upacara minum teh ini hanya dapat dilaksanakan oleh beberapa kalangan yaitu raja, bangsawan dan para samurai.

Kemudian upacara minum teh semakin meluas dan masyarakat umum mulai menikmatinya. Diawali dari seorang Toyotomi Hideyoshi, panglima perang Jepang melaksanakan upacara minum teh di hadapan seluruh prajuritnya untuk memberikan inspirasi dan semangat sebelum menghadapi pertempuran. Sementara itu abad ke 16 juga dinilai sebagai awal semakin merasuknya tradisi minum teh kebuyaan masyarakat Jepang.

Sosok yang paling dikenal dalam upacara minum teh adalah Sen No Rikyu, seorang guru upacara minum teh Jepang yang telah menyempurnakan dari prosesi yang pernah ada sebelumnya. Sen No Rikyu juga mengajarkan konsep Ichigo Ichie atau yang berarti setiap perjamuan upacara minum teh harus dianggap sangat berharga karena tidak bisa diulang.

Pada awal keberadaannya, upacara minum teh ini hanya dapat dilakukan para pria. Namun memasuki era maiji, para wanita diwajibkan untuk mempelajari upacara minum teh sebagai salah satu upaya pemahaman budaya Jepang. Banyaknya penduduk yang mempelajari upacara minum teh memunculkan berbagai aliran dalam mempelajari upacara yang sangat sakral tersebut.

Setiap upacara minum teh, teh hijau berbentuk bubuk yang dibuat dari daun teh jenis tenca yang telah digiling halus menjadi sebuah pilihan. Namun upacara yang disempurnakan oleh kalangan samurai ini menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata kramanya yang terlalu kaku. Keinginan masyarakat untuk dapat menikmati teh dengan suasana yang lebih santai membuat aliran upacara minum teh dengan menggunakan jenis teh jenis senca semakin berkembang dan pupuler.

Melimpahnya teh jenis senca yang dihasilkan negara Jepang melatar belakangi pendeta Taisao membuat acara upacara teh baru yang disebut sencado. Sebelum masuk ke dalam tempat upacara minum teh, sang tamu harus terlebih dahulu memberi hormat kepada tuan rumah. Sebelum memulai upacara minum teh, tuah rumah akan menyuguhkan sebuah kue manis sebagai tanda ucapan selamat datang pada tamu.

Setelah kue habis dimakan, sang guru menyiapkan teh untuk diminum. Dalam membuat ocha banyak hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil racikan terbaik. Takaran air dan tingkat suhu air menjadi bagian yang harus diperhatikan untuk menyajikan minuman teh. Dalam proses penyediaan teh harus dilakukan dengan penuh kesabaran.

Meski terkesan rumit dan kaku, setiap langkah dalam pelaksanaan upacara minum teh mengandung filosofi yang dalam. Filosofi yang ditanamkan adalah rasa saling menghargai, menjaga keharmonisan, kesucian, dan kedamaian antar manusia dan alam sekitarnya.

Seiring perkembangan zaman, makna yang terkandung dalam upacara minum teh perlahan mulai luntur. Derasnya arus modernisasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tradisi budaya yang mereka miliki pudar dan mulai ditinggalkan kaum muda. Beragam olahan makanan yang terbuat dari teh menjadi salah satu upaya untuk semakin memperkaya warisan yang telah mereka miliki dan mulai memudar.

Upacara minum teh yang ada di negeri sakura ternyata memiliki perjalanan panjang dalam keberadaannya. Meskipun terdapat beberapa aliran, namun hal tersebut tidak mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Dimana proses ini mencoba mempertegas antara kesetaraan serta keselarasan manusia dengan alam sekitarnya.


Sumber : Rahasia Zaman, Trans7