Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Sejarah dan Perkembangan Kota Cimahi

Referensi
Tuesday, 1 August 2017
Meski sumber alamnya tidak begitu banyak dan wilayahnya juga tidak begitu besar, namun Cimahi menjadi salah satu kawasan strategis dan memiliki potensi untuk menjadi kota maju. Terbukti kota ini pernah dijadikan basis militer terbesar dan juga berkembang menjadi kota otonom. Perkembangan tata kota dan pembangunan yang pesat merupakan suatu bukti perjalanan panjang perubahan yang terjadi pada suatu daerah.

Image : panoramio.com

Seperti Kota Cimahi, salah satu daerah di kawasan Bandung yang memiliki luas 48.000 kilometer persegi ini. Nama Cimahi berasal dari kata Cai dan Mahi yang berarti air yang cukup. Dalam hal ini dimaknai dengan air sungai yang mampu mencukupi hajat hidup masyarakat di sekitarnya. Di masa penjajahan, wilayah pegunungan dan lingkungan yang bersih seperti Cimahi kala itu menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :
Bangunan Tua di Kota Lama Jakarta
Sejarah Kota Mekkah

Bahkan Cimahi juga dipersiapkan untuk menjadi basis militer terbesar di tanah Hindia. Berbicara Cimahi tidak bisa lepas dari unsur militer. Sejumlah pembangunan sarana dan prasarana dilakukan untuk mendukung pertahanan Hindia Belanda kala itu. Mulai dari sarana transportasi dengan dibangunnnya jalur kereta api serta stasiun kereta api yang didirakan tahun 1884.

Selain memudahkan mobilitas warga saat  itu, jalur kereta api tersebut juga dianggap strategis karena menghubungkan kawasan Batavia dan Bandung. Bahkan hingga menjelang kemerdekaan rel kereta menjadi jalur pengiriman pasukan serta senjata dari pabriknya di Kiara Condong menuju gudang penyimpanan senjata di Cimahi sebelum disebar ke kawasan-kawasan pertempuran.

Sarana yang masih berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik hingga saat ini adalah rumah sakit. Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Dustira yang dulunya dikenal dengan nama Militer Hospital. Dulu rumah sakit Dustira dibangun khusus para prajurit tentara Belanda yang sakit dan luka dalam pertempuran.

Di era kemerdekaan wilayah Cimahi mengalami beberapa kali perubahan sistem pemerintahan. Mulai dari menjadi bagian Kabupaten Bandung sebagai daerah kewedanaan yang terdiri dari lima kecamatan yaitu kecamatan Cimahi, Padalarang, Batujajar, Cipatat dan Cisarua. Pada tahun 1976 statusnya ditingkatkan menjadi kota administratif dan Cimahi menjadi kota ketiga di Indonesia setelah Bitung Sulawesi Utara dan Kota Banjar Kalimantan Selatan. Hal ini dikarenakan Cimahi memiliki beberapa potensi yang justru harus diperhatikan.

Selama 26 tahun menjadi kota administratif Cimahi menjadi salah satu wilayah penyokong pendapatan Kabupaten Bandung, namun pembangunan saat itu justru terasa minim. Hingga akhirnya masyarakat mendorong untuk dijadikannya sebuah daerah otonom. Hasil dari berbagai kajian yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tahun 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonomi hingga saat ini.

Kota Cimahi yang dihuni 586.586 jiwa yang tersebar di 3 kecamatan serta 15 kelurahan kini dapat menentukan kebijakan sesuai kondisi daerah serta mengatur peruntukan dana di wilayah secara mandiri. Usaha dalam meningkatkan perkembangan kota kearah yang lebih baik dan maju tidak lantas budaya dan adat istiadat ditinggalkan. Salah satunya desa adat Cireundeu yang masih bertahan sejak tahun 1918.

Kepercayaan, budaya dan tradisi warisan leluhur masih terus dijalankan warga desa ada Cireundeu hingga saat ini. Perkembangan suatu kota bukan hanya semata-mata merubah status ataupun penampilan luarnya saja, tetapi semangat menjaga dan melestarikan budaya yang ada juga menjadi penting dalam mencapai suatu perubahan.


Sumber : Net Jabar