Perhatikan -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Perhatikan

Referensi
Thursday, 28 June 2018

Sebagai manusia, kita tentu kerap dihadapi dengan situasi dimana kita akan tertawa dan menangis, akan senang dan sedih, dan banyak lagi bumbu-bumbu perasaan hidup di dunia ini.

Siapakah yang menjadikan itu semua? Tentu saja Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah telah menciptakan tertawa, sebagaimana firmanNya:

وَأَنه ُُهوَ أَضحكَ وَأَبكى
“Dialah dzat Allah yang menciptakan tertawa dan menangis”

Memperbanyak ketawa adalah sifat tercela sebagaimana sabda Nabi:

وَالَّذِي نَفْسِي ِبيَدِهِ لَوْتَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

“Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis “.
Jika ia berupa senyuman maka diperbolehkan menurut kesepekatan para ulama bahkan hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkannya sebagaimana terdapat dalam hadits Abdullah bin al Harits yang mengatakan, ”Tertawanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya sekedar senyum.” (HR. Tirmidzi) Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah.” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati.” Tsabit al Bananiy mengatakan, ”Tertawanya seorang mukmin adalah bagian dari kelalaiannya yaitu kelalaian terhadap perkara akhirat dan jika dirinya tidak lalai maka tidaklah ia tertawa.”

Terkadang tertawa menyebabkan kekufuran apabila tertawanya untuk mengejek apa-apa yang diturunkan Allah atau sunnah Rasulullah.

Tidak diperbolehkan berbohong untuk ditertawakan oleh orang lain, hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبَ لِيَضْحَكَ بِهِ اْلقَوْمُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celaka bagi orang yang berkata kemudian berbohong supaya orang-orang tertawa, maka celaka baginya, maka celaka baginya”.

Bercanda adalah perkataan yang dimaksudkan untuk melapangkan dada, dan tidak sampai menyakiti, bila menyakiti maka berubah menjadi mengejek.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang yang bersenda gurau:

1. Hendaknya senda gurau dilakukan pada waktunya yang sesuai.

2. Tidak tenggelam dan terlewat batas

3. Tidak berbicara dengan perkataan yang buruk.

4. Tidak bersenda gurau dengan memperolok-olok agama.

5. Tidak bersenda gurau dengan orang-orang yang bodoh.

6. Hendaknya menjaga perasaaan orang lain.

7. Bersanda gurau dengan orang yang lebih tua dan alim dengan sesuatu yang pantas.

8. Tidak terbuai sampai tertawa terbahak-bahak.

9. Tidak memudharatkan diri sendiri