Blunder Amplop Coklat Yang Bikin Kubu Sebelah Makin Terpuruk -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Blunder Amplop Coklat Yang Bikin Kubu Sebelah Makin Terpuruk

Referensi
Friday, 21 June 2019

Amplop coklat ikut menjadi bukti kecurangan pemilu, oleh saksi bernama Betty Kristiana. Bukti ini dicounter denhan mudah oleh KPU dengan menunjukkan amplop cokelat yang menurutnya bukan merupakan bukti kecurangan.

Komisioner KPU Hasyim Asy'ari menjelaskan amplop yang ditemukan Betty belum pernah digunakan saat pemungutan suara. Jika pernah digunakan, ada bekas perekat bawaan dari amplop. "Kalau ada pasti ada tulisan berapa lembar di dalam. Kalau yang disampaikan saksi kemaren tak ada bekas lem, segel," kata Hasyim saat persidangan di Gedung MK.

Untuk membuktikan ucapannya, dia memperlihatkan contoh amplop untuk surat suara sah di dalam kotak suara. Hasyim membandingkan amplop yang dibawa KPU dengan versi temuan Betty. "Kalau digunakan kan berarti surat suara dimasukan situ, di lem dan segel. Kalau lihat ini tak ada bekas lem dan segel (membandingkan amplop). Bisa dikatakan ini belum pernah dipakai," jelas Hasyim.

Salah seorang kuasa hukum kubu Prabowo-Sandi kemudian mempertanyakan banyak tumpukan dus amplop yang tidak digunakan. Hasyim membalas dan meminta kepada pihak pemohon untuk menanyakan semua itu kepada Betty selaku saksi yang dihadirkannya. "Saksi mengatakan datang ke sana (lokasi ditemukan amplop) tidak bawa mobil, kemudian belakangan dia berkata bisa bawa mobil jadi bawa banyak. Tidak konsisten," kata Hasyim.

Bohong lagi? Apakah bawa mobil atau tidak bawa mobil? Ini saja sudah menimbulkan kebingungan.

Awal mulanya adalah Betty Kristiana, mengaku melihat tumpukan amplop resmi yang digunakan untuk menyimpan formulir C1. Amplop bertanda tangan itu dalam kondisi terbuka dan kosong. Selain itu, dia juga menemukan tumpukan lembaran segel suara berhologram yang telah digunting, yang setelah dikumpulkan menjadi empat karung lebih. Tumpukan itu dia lihat di halaman kantor Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, pada 18 April 2019 atau sehari setelah pencoblosan.

Bety lalu mengatakan beberapa temuan-temuan itu, dia membawa 30 berkas dan dibawa ke sekretariat nasional di Boyolali. Betty sendiri berdomisili di Teras yang jaraknya sekitar 50 km dari Juwangi. Untuk sampai ke Juwangi, dia mengaku menghabiskan waktu hingga 3 jam lamanya. Inilah yang memicu keheranan.

"Bahwa Saudara dari kampung (rumah) menuju Juwangi itu sampai 3 jam. Kalau 3 jam, itu Anda berangkat jam berapa dari rumah?" tanya salah satu anggota tim hukum TKN.

Hakim Suhartoyo pun sepertinya ada yang merasa janggal, lalu ikut memberikan pertanyaan, "Begitu Anda menyebut Juwangi tadi, saya langsung buka Google Maps. Jarak antara rumah Anda ke Juwangi ini mencapai 50 km. Kok bisa sampai 3 jam?"

Betty beralasan kalau medannya berat. Maksudnya jalanan tidak beraspal. Lantas netizen pun membongkar apa yang dikatakan Betty. Ada yang merujuk pada foto Google Maps di mana jalannya lumayan bagus dan beraspal. Ada yang mengatakan Betty bohong karena jarak tempuh paling lama hanya 1 jam 15 menit.

Kalau pakai logika sih, agak keterlaluan kalau 50 km ditempuh dalam waktu 3 jam. Kalau pun jalanan rusak, masa separah itu sampai harus 3 jam? Jangan-jangan naik sepeda? Atau jalan merangkak? Atau naik kuda capres sebelah? Atau lompat pakai karung seperti lomba balap karung?

Ketua KPU Arief Budiman menjelaskan, setiap TPS memiliki amplop berlebih. Amplop itu nantinya dikumpulkan di kecamatan setempat. Jadi itu memang amplop-amplop yang belum dipakai.

Bisa jadi kubu sebelah menemukan amplop itu, lalu menggebu-gebu tanpa pikir panjang dan menyebut itu sebagai bukti kecurangan. Di manakah letak Wow dan Mencengangkan tersebut? Hingga kini kita masih belum menyaksikannya. Yang ada malah dagelan dan lawakan yang sesungguhnya sangat melecehkan persidangan. Bikin habis waktu saja.

Biar saja publik yang menilai siapa yang bermain drama di sidang MK ini. Gerombolan yang saksinya konyol, merendahkan logika berpikir serta rasionalitas demi membela sang capres sebelah yang ngotot tak mau mengaku kalah. Sejauh ini puas dengan para hakim MK yang memimpin sidang, terkesan tegas dan galak. Bahkan BW hampir diusir karena terus memotong pembicaraan antara salah satu hakim dengan saksi.

Bagaimana menurut Anda?

Sumber Referensi:

https://m.medcom.id/pemilu/news-pemilu/GKdRX4eb-kpu-tunjukkan-amplop-cokelat-patahkan-bukti-kubu-prabowo