Jakarta dan Tipuan Orang Seiman -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Jakarta dan Tipuan Orang Seiman

Referensi
Tuesday, 18 June 2019

Jangan melupakan sejarah karena dengan sejarah kita bisa banyak mengambil pelajaran yang berguna bagi masa depan. Oleh sebab itu, kita kembali mengungkit apa yang dikatakan oleh Anies dulu dalam bantah-bantahan melawan Ahok di Kampanye bukan berarti karena gak bisa move on, tetapi ini diharapkan bisa digunakan untuk pelajaran ke depannya.

Yang pertama marilah kita mengingat lagi bagaimana seorang Ahok yang menertawakan program Anies terkait rumah tapak dengan Dp 0 rupiah bagi rakyat miskin. Ketika itu Ahok menjelaskan bahwa program rumah tapak dengan DP 0 rupiah yang diperuntukkan bagi rakyat miskin gak mungkin bisa direalisasikan di Jakarta, karena selain harga tanah yang selangit, lahan juga sudah sangat penuh, oleh sebab itu ketika itu Ahok memberikan solusi dengan rumah susun. Anies lagi-lagi ngotot rumah tapak DP 0 rupiah bisa dilakukan. Saat ini pada faktanya, gak bisa dijalankan, dan rumah DP 0 rupiah ala Anies bukanlah rumah tapak tetapi rumah susun, itu pun tidak bisa untuk rakyat miskin yang pendapatannya UMP apalagi di bawahnya.

Yang ke dua adalah, dimana Anies mengatakan bahwa dia tidak mau menggusur, tetapi pada kenyataannya, Anies juga melakukan penggusuran. Selama setahun saja, sudah banyak laporan penggusuran paksa yang dilakukan oleh Anies menurut LBH ada 91 kasus.


Untuk yang ketiga, dulu Anies menuduh Ahok pro pengembang karena mendukung reklamasi, padahal Ahok sendiri sudah memberi penjelasan bahwa secara hukum reklamasi sudah tidak bisa digagalkan, dan itupun sudah digagas sejak orde baru. Meskipun begitu Anies tetap ngotot itu bisa digagalkan yang penting keberpihakan. Dulu Ahok setuju dengan reklamasi dan ada 15 % NJOP yang masuk ke DKI dan itu bisa digunakan untuk kepentingan rakyat. Tetapi sekarang apa yang terjadi, Anies secara diam-diam menerbitkan IMB untuk pulau reklamasi dan tak ada pemasukan bagi DKI Jakarta yang bisa digunakan untuk warga DKI Jakarta.


Terkait reklamasi, Ahok sudah banyak mempertimbangkan bagaimana warga DKI Jakarta secara keseluruhan bisa menikmati, meskipun itu kelas bawah dengan manajemen yang bisa “menciprati” rakyat biasa, tetapi tidak dengan Anies yang diam-diam terbitkan IMB.


Di sini saya tidak mau memasukkan OK Oce, meskipun itu program Anies bersama Sandi, tetapi penggagasnya adalah Sandiaga Uno yang telah mundur dari Wagub. Ok Oce sendiri dianggap gagal dan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan pertama, dimana janji OK Oce yang katanya memberi penyuluhan, memberi modal dan mencarikan pasar, tetapi pada kenyataannya OK Oce yang terwujud dan gagal hanyalah sebuah model mini market yang tak banyak menyerap tenaga kerja.

Anies yang sangat anti dengan kebijakan Ahok, ahirnya pun menutup Balaikota bagi warga DKI Jakarta yang hendak mengadu. Berbeda dengan Ahok, ketika ada yang tak beres di tingkat bawah, warga DKI Jakarta bisa mengadu langsung pada Ahok supaya dapat ditindak. Hal tersebut yang menyebabkan pelayanan menjadi baik di era Ahok, contohnya saja aplikasi Qlue sebagai tempat pengaduan sangat berfungsi baik dimana semua pengaduan ditangani dengan cepat, namun setelah Anies menjabat, aplikasi menjadi kiamat karena respon yang lambat dan bahkan tak ditangani.

Meskipun kita menganggap banyak kemunduran di DKI Jakarta, tetapi Anies tetaplah Gubernur DKI Jakarta, dan kemungkinan besar masih bisa mencalonkan diri lagi di pilkada selanjutnya, atau bahkan bisa menggapai mimpi yang lebih tinggi nyalon di pilpres, karena dulu toh dia berambisi menjadi presiden dengan mengikuti konvensi capres partai Demokrat. Oleh sebab itu, inilah pentingnya kita kembali mengingatkan masyarakat terkait apa yang dilakukan Anies di DKI Jakarta supaya masyarakat bisa bijak dalam memilih dengan menelusuri rekam jejak.

Ketika melihat kenyataan seperti yang saya tuliskan di atas, kemungkinan besar orang banyak yang menyesal banyak berharap dengan Anies terkait janji keberpihakan yang kerap dilontarkan oleh seorang Anies. Tetapi seburuk apapun kinerja Anies, tidak akan mempengaruhi pandangan para pendukung Anies sebelumnya jika yang dijadikan dasar memilih Anies adalah sentimen agama.

Atau mungkin jika dulu Anies beruntung dan menang melawan Ahok karena sentimen yang penting seiman, tetapi paling tidak carilah seiman yang memiliki kualitas lebih baik, jika tidak ada masa iya mau dipaksakan memilih yang seiman? Orang yang seiman itu belum tentu tidak bisa menipu sesama orang beriman lo.


Sumber Opini:

https://metro.tempo.co/read/1214290/anies-terbitkan-imb-pulau-reklamasi-dprd-merasa-kecolongan/full&view=ok

https://news.detik.com/berita/d-4256083/1-tahun-anies-lbh-jakarta-nilai-masih-ada-penggusuran-paksa

https://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/22/14455851/ahok.dki.bisa.dapat.rp.179.triliun.dari.kontribusi.tambahan.reklamasi