Jokowi yang Mengerikan, Prabowo Dipaksa Menyerah dan Tunduk -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Jokowi yang Mengerikan, Prabowo Dipaksa Menyerah dan Tunduk

Referensi
Thursday, 13 June 2019

Bagi rakyat Indonesia, Jokowi adalah pujaan. Terutama karena segala tindakan Jokowi yang terus berorientasi kepada kepentingan rakyat, dan bukannya kepentingan kekuasaan serta lingkar politik yang melingkup di sekitarnya.

Namun bagi rival-rivalnya, Jokowi ternyata amatlah mengerikan. Terutama bagi sosok-sosok yang sengaja hendak merugikan, merongrong bahkan juga berkeinginan menghancurkan negeri tercinta ini, yang umumnya hanya demi ambisi dan keuntungan pribadi.

Ketegasan Jokowi tak perlu diragukan lagi.

Tak peduli lawan atau kawan, bila memang merugikan negara tetap akan diganjar dengan hukuman yang sepadan.

Juga tak peduli berasal dari partai kambing atau partai congek, jika memang melanggar hukum maka silakan diproses hingga tuntas.

Pun tak peduli berjubah apa atau mengenakan lencana kebesaran yang mana, jika memang berniat menghancurkan negeri ini maka Langsung tak sungkan untuk dihajar habis-habisan hingga lintang-pukang centang-perenang.

Fenomena tentang ‘Jokowi yang amat mengerikan’ tersebut seakan menemukan konteksnya pada sikap yang diperlihatkan oleh Prabowo baru-baru ini, yang langsung berbalik 180 derajat dari sikap-sikap sebelumnya hingga sempat menimbulkan dugaan tentang apakah Prabowo habis kesambet atau baru minum obat hingga jadi begitu berbeda?

Dilansir dari detikNews, Capres Prabowo meminta para pendukungnya mempercayai proses sidang gugatan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Prabowo meminta pendukungnya mempercayai kredibilitas hakim MK.

"Dan kita percaya lah kepada hakim-hakim tersebut apa pun keputusannya kita sikapi dengan dewasa, dengan tenang, dengan berpikir selalu kepentingan bangsa dan negara, selalu keutuhan negara dan bangsa. Itu sikap kami, permohonan kami," ujar Prabowo.

Selain itu, Prabowo meminta pula pendukungnya tidak berbondong-bondong ke MK saat sidang gugatan hasil Pilpres.

"Saudara-saudara sekalian, kami memutuskan menyerahkan melalui jalur hukum dan jalur konstitusi. Karena itu, saya dan Saudara Sandiaga Uno memohon pendukung-pendukung kami, tidak perlu untuk berbondong-bondong hadir di lingkungan MK pada hari-hari yang mendatang."

"Saudara-saudara sekalian, saya mohon sami'na wa atho'na, percayalah kepada pimpinan dan untuk itu sungguh-sungguh kalau saudara merasa mendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, saya mohon tidak perlu hadir di sekitar Mahkamah Konstitusi.”

"Mungkin ada delegasi hanya sekadar untuk menemani tim hukum, tapi tidak perlu berbondong-bondong, tidak perlu dalam jumlah masa, untuk kita hindari fitnah dan hindari provokator-provokator lainnya. itu permohonan saya.”

"Percayalah niat kami adalah yang terbaik untuk bangsa dan negara, umat, dan rakyat," ucap Prabowo.

Pernyataan Prabowo tersebut terasa semakin ajaib, terutama bila mengingat bahwa beberapa waktu menjelang demo 22 Mei kemarin yang berakhir rusuh, Prabowo mengatakan bahwa dirinya bukanlah seorang diktator yang bisa melarang mereka yang ingin berdemo serta memobilisasi (dari luar Jakarta), dengan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan Hak Kedaulatan Rakyat mereka yang dijamin oleh Undang-Undang.

Bila merujuk pada ucapan Prabowo sebelumnya, apakah perintah Prabowo tersebut kemudian dapat ditafsirkan bahwa dirinya kini telah berubah menjadi seorang diktator sepertinya tak perlu diperdebatkan. Karena selain tak penting, hal itu pada akhirnya hanya menjadi satu dari begitu banyak blunder, yang sepertinya telah menjadi nama tengah Prabowo. Sebab blunder dan Prabowo memang seperti amat tak terpisahkan.

Yang mencurigakan, sikap Prabowo tersebut justru sejalan dengan fenomena pola yang khas terjadi pada kubu politiknya, yaitu bahwa rerata mereka bersikap gahar seakan merupakan ‘Sosok Sakti’ yang Maha Segalanya dan Tak Takut Segalanya, yang kemudian selalu sontak berubah menjadi ayam sayur saat terkena kasus hukum dan terciduk pihak yang berwajib.

Besar dugaan, Prabowo mengalami pula ‘Fenomena Ayam Sayur’ yang serupa, terutama bila mengingat pasca perubahan sikap yang ditunjukan oleh Prabowo justru terjadi sejak pertemuan dirinya dengan JK yang berlanjut dengan maraknya kasus dalang kerusuhan Mei 2019 yang melibatkan berderet nama yang tak asing bagi dirinya.

Pasca pernyataan JK mengenai Prabowo yang menelepon ‘orang-orangnya’ untuk membatalkan aksi demo susulan, JK kembali melontarkan ‘pernyataan unik’ tentang keyakinannya bahwa Prabowo dan pendukungnya akan menerima apa pun hasil dari sengketa pilpres.

"Ya, saya yakin (akan terima apa pun putusan MK), Pak Prabowo itu orang yang realistis," kata JK di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Menurut JK, Prabowo merupakan orang yang realistis. Dia pun meyakini Prabowo serta para pendukungnya akan dengan legawa mematuhi putusan MK nantinya.

"Beliau itu sangat kebangsaan dan beliau itu sangat menerima proses konstitusi," katanya.

Pernyataan JK tersebut kontan menimbulkan asumsi beragam.

Bagaimanapun juga, kepiawaian berpolitik JK tak bisa untuk tak diakui. Begitu pula dengan kiprahnya sebagai juru damai berpengalaman dalam berbagai konflik yang terjadi di negeri ini.

Bisa jadi, pernyataan yang disampaikan JK tersebut adalah dalam rangka meredam konflik serta sebagai upaya menenangkan Prabowo, sebagai tindak lanjut dari ‘berbagai suntikan’ JK terhadap Prabowo dalam pertemuan keduanya.

Namun sejak kapan Prabowo mampu ‘ditundukkan’ syahwat politiknya?

Bahkan oleh sosok sekaliber JK sekalipun?

Terutama bila mengingat masih kuatnya ‘sandera dari para setan gundul’ versi elit Demokrat, yang bahkan sempat dicetuskan pula oleh SBY tentang betapa kuat tekanan, yang bahkan menjadikan Prabowo tidak bisa bebas untuk melakukan pertemuan, dengan pihak-pihak tertentu dalam kerangka rekonsiliasi nasional karena tidak diingini oleh kelompok para setan gundul tersebut?

Dengan data yang tersaji seperti itu, menjadi wajar bila kemudian dugaan publik justru malah menguat berdasarkan ‘berbagai suntikan’ JK terhadap Prabowo.

Lobi-lobi politik diduga telah terjadi, lengkap dengan segala dealnya, yang jikapun tak dapat menguntungkan semua pihak namun bisa saja bersifat menyelamatkan pihak tertentu yang tengah terjepit atau bahkan kecetit.

Bukankah imbal baliknya pun tetap terlihat keren dan terhormat, yaitu demi upaya meredam konflik, demi keutuhan bangsa, demi negara, serta sederet demi lain yang tak kalah hebatnya, setidaknya di mata awam.

Lagi pula, siapa HM dan atau Kivlan dan atau bahkan para setan gundul sekalipun, hingga bisa jadi begitu dibisingkan sebagai dalang kerusuhan Mei 2019?

Apakah sosok-sosok tersebut yang kemudian memperoleh kue lezat utama jika kemudian kerusuhan misalnya meluas lalu Jokowi tak bisa dilantik sebagai presiden terpilih?

Jelas hal itu tak lebih cuma sekedar mimpi atau mengigau. Karena tetap saja, para martir tersebut hanya akan memperoleh imbalan berupa kue pinggiran, bahkan kue sisaan, untuk kemudian bukan mustahil pada hari-hari selanjutnya mulut dan keberadaan mereka tak terdengar lagi kabarnya.

Maka bagaimana mungkin, sosok yang ‘cuma selevel itu doang’ kemudian ramai-ramai diklaim sebagai dalang?

Lagi pula, bila dinalar secara logika, kapan pernah ada dalang yang amat sangat goblok keterlaluan dungunya hingga begitu mudah diungkap? Dalam waktu yang super singkat pula! Benar-benar amat mencederai rasa kedalangan global serta bisa dianggap sebagai kriminalisasi terhadap profesi perdalangan sejagat.

Tak heran bila Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko kemudian memberikan klarifikasi, dengan menyebut bahwa penegak hukum belum mengungkap dalang kerusuhan 22 Mei karena kasusnya masih dalam pendalaman. Yang sejauh ini baru diungkap, sebut Moeldoko, adalah asal-usul senjata api yang disita dalam kerusuhan.

"Ini masih proses, hanya memakan waktu. Yang kemarin yang dikenalin lebih dalam adalah bagaimana asal-usul senjata. Selanjutnya nanti akan maju lagi siapa sih sesungguhnya yang berada di balik ini semuanya. Jadi kemarin belum sampai ke dalang kerusuhannya, kemarin lebih mengungkap asal-usul senjata dan mau dipakai apa senjata itu," jelas Moeldoko di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan.

Moeldoko menyebutkan masih ada kemungkinan keterlibatan pihak selain Kivlan Zen. "Ya bisa ada, bisa bagaimana nanti hasil investigasi berikutnya," ujarnya.

Yang jelas, Kepolisian di tangan Kapolri Tito Karnavian di era pemerintahan Jokowi tidaklah bodoh.

Prabowo pun siapa sangka ternyata tak bodoh pula.

Tinggal tersisa para martir serta pendukung buta yang disusupi para setan gundul, yang bodohnya ampun-ampunan hingga akhirnya hanya mampu meringis melihat perkembangan terkini situasi yang terjadi, dengan belitan rantai hukum di sekujur raga mereka, tanpa satupun pihak yang mampu untuk menolongnya, yang sebelumnya dikira sebagai ‘Dewa Sakti’ yang tak bakal menjerumuskan mereka ke lembah nestapa yang juga nista.

Benar-benar kegoblokan yang ditebus dengan harga mahal serta amat menyedihkan, yang semakin menegaskan betapa amat pentingnya menjadi cerdas dalam berpolitik, dalam berpilpres, dalam berbangsa dan bernegara bahkan juga dalam beragama.

Referensi:

https://seword.com/politik/jokowi-yang-mengerikan-prabowo-dipaksa-menyerah-dan-tunduk-dCtNXXUB0j

https://news.detik.com/berita/d-4582886/prabowo-percayalah-kepada-hakim-mk-apa-pun-keputusannya-sikapi-tenang?tag_from=wp_nhl_judul_38&_ga=2.154407352.1857925243.1560027119-610799955.1559173378

https://news.detik.com/berita/d-4582883/prabowo-imbau-pendukung-saya-memohon-tidak-perlu-hadir-di-sekitar-mk?tag_from=news_beritaTerkait

https://news.detik.com/berita/d-4582709/jk-yakin-prabowo-akan-terima-putusan-mk-dia-realistis?tag_from=news_beritaTerkait

https://news.detik.com/berita/4582765/usai-bertemu-prabowo-sandiaga-minta-pendukung-tak-datang-ke-mk

https://news.detik.com/berita/d-4584212/rusuh-22-mei-polri-dalami-dugaan-keterlibatan-aktor-selain-habil-marati?tag_from=news_beritaTerkait