Kena Batunya! Bambang Wijayanto “DiTelanjangi” Hidup-Hidup Di MK -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Kena Batunya! Bambang Wijayanto “DiTelanjangi” Hidup-Hidup Di MK

Referensi
Wednesday, 19 June 2019

Menyaksikan sidang MK hari ini terlebih menjelang sidang penutup seperti sedang menonton race MotoGP, begitu seru dan membuat gregetan. Sidang MK hari ini pada detik-detik akhir membuat saya ketawa kegirangan dan puas melihat hakim MK memukul palu di jidat ketua tim hukum BW. Senang dan tertawanya saya bak menyaksikan Rossi naik podium mengalahkan Marques.

Seperti yang pernah saya ulas pada tulisan sebelumnya, bahwa MK bukanlah keranjang sampah, MK juga bukan tempat untuk meminta ini itu. Hari ini BW menunjukkan sikap yang lucu sebagai lawyer yakni meminta, dan menurut saya ada nada memaksa didalam kalimat dan intonasi yang BW tekankan ketika meminta hakim MK untuk mengabulkan permintaan perlindungan saksi dan meminta menghadirkan 30 saksi dan 5 ahlinya. Pemandangan seperti ini sebenarnya sudah biasa, bahkan telah menjadi kebiasaan bagi tim Prabowo untuk memaksakan kehendak.

Memang sempat terjadi adu pendapat antara BW dan hakim konstitusi soal perlindungan saksi. Bukan hanya dengan hakim MK namun pertentangan juga sempat terjadi antara BW dan anggota tim hukum TKN Luhut.

Awalnya Bambang menyampaikan surat kepada MK yang meminta perlindungan saksi dari pihaknya. Bambang berulang kali menekankan adanya ancaman dan perlunya saksi dari pihaknya untuk dilindungi. Bambang juga sempat mengatakan, LPSK terkendala aturan undang-undang untuk memberi perlindungan saksi. LPSK bisa memberi perlindungan saksi jika MK memerintahkan.

Beberapa hakim MK yakni Suhartoyo dan I Dewa Gede Palguna kemudian menjawab permintaan BW terkait memerintahkan LPSK memberi perlindungan para saksi. Menurut hakim, tidak ada landasan hukum bagi MK untuk memberikan kewenangan kepada LPSK untuk melindungi saksi sengketa pilpres. MK dalam hal ini berpikir cerdas karena hakim MK memiliki kekhawatiran akan munculnya pertanyaan banyak pihak jika menyetujui permintaan tersebut.

Perihal ancaman kepada saksi, hakim Palguna juga mengatakan jangan sampai ada anggapan bahwa sidang MK begitu menyeramkan sehingga orang merasa terancam untuk memberikan keterangan. Hakim MK juga sempat menegaskan tidak boleh sampai ada pihak yang merasa terancam untuk bersaksi di MK.

Rasa senang saya memuncak ketika hakim Saldi Isra meminta Bambang tidak mendramatisasi soal keamanan para saksi. Hakim Saldi Isra juga sempat menekankan bahwa jika memang benar tengah ada ancaman, kepolisian pasti tengah mendengar, mereka dapat melindungi. Hakim Saldi mengingatkan BW bahwa tidak perlu mendramatisir perkara. Bingo! kena dech BW, siap-siap menerima gelar sebagai pengacara ahlinya drama selain gelar pengacara gemar memalsukan keterangan saksi. Seperti yang publik ketahui, kubu Prabowo Sandi memang terkenal dengan dramanya dari awal kampanye hingga hari ini. Isi dari tim BPN memang bukan politikus dan negarawan namun lebih banyak adalah aktor sinetron dan drama.

Permasalahan dramatisasi juga sempat dikomentari tim hukum TKN yakni Luhut Pangaribuan. Dia mengatakan untuk memaparkan ancaman yang diterima saksi BPN didalam sidang. Ketika Luhut mengatakan agar BW jangan menciptakan drama, langsung dengan bringas BW membantah bahkan bersikap keras didalam sidang. Kurang lebih sama seperti Prabowo saat memukul podium tapi tidak sampai menggebrak dan membelah meja dalam persidangan.

Sebelum ketua hakim MK menutup sidang, BW ibarat sambal pecel yang disiram air panas, dipenyet-penyet sampai hancur oleh para hakim MK. Bahkan saat BW meminta MK untuk memanggil saksi dan ngotot pihaknya tetap akan mengeluarkan 30 saksi dan 5 ahli kemudian meminta MK yang menyeleksi, hal ini mendapat tanggapan keras dari MK.

Hakim mengatakan yang intinya kenapa MK harus memanggil saksi untuk pihak BPN? Yang butuh siapa. Jika memang MK yang butuh maka sangat lazim MK memanggil saksi-saksi tersebut. Namun dalam kasus sengketa saat ini yang butuh menghadirkan saksi untuk membantu dalil-dalil gugatan adalah tim hukum BPN sendiri. Si BW memang lebih MK daripada MK karena bisa meminta agak memaksa pula kepada yang mulia hakim konstitusi.

Untungnya hakim dengan tegas mengatakan jangan semua dibebankan kepada MK. Sengketa ini mau cepat diselesaikan malah meminta MK untuk menyeksi demi kepentingan pemohon. Yang punya tugas membuktikan dalil adalah pihak tim hukum BPN jadi harus pihak merekalah yang memilih sendiri saksi yang sekiranya dapat membuktikan dalil mereka. Pada akhirnya hakim MK memutuskan untuk tetap menggunakan 15 saksi dan 2 ahli.

Sebenarnya memang tidak masuk akal untuk saat ini jika BW dan kawan-kawanya selalu mengatakan ancaman kepada para saksi. Seharusnya BW bukan hanya memberikan asumsi, bahkan ketika saksi hadir tidak bisa hanya dengan mengatakan saya diancam. Harus jelas bentuk ancaman seperti apa, apakah melalui medsos, WA, surel, telpon atau melalui surat kaleng. Semua bukti-bukti ancaman harus dihadirkan di sidang. Jika hanya statement apalagi saksi dari kubu 02 agak kuat dugaan diragukan kebenaranya. Karena susah dinalar juga bagaimana saksi bisa diancam jika saksinya saja belum ada yang tahu siapa. Selama ini saksi juga dirahasiakan oleh BPN dengan alasan takut adanya tekanan dan ancaman. Sebenarnya publik juga sudah bisa menilai selama ini yang terkenal anarkis dan radikal adalah pendukung Prabowo Sandi, yang meminta perlindungan saksi mereka, yang mengatakan ada ancaman mereka. Ujung-ujungnya akan ada settingan saksi diancam, diteror bahkan mungkin paling parahnya ada yang dianiaya dan pelakunya mungkin juga setingan dari kubu 02 sendiri.

sumber tayangan sidang MK 18 Juni 2019