Akal-akalan Gerindra Agar Jokowi Mau Temui Prabowo -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Akal-akalan Gerindra Agar Jokowi Mau Temui Prabowo

Referensi
Saturday, 6 July 2019


Usulan rekonsiliasi kencang disuarakan oleh partai-partai 02, terutama Gerindra. Seolah Jokowi sangat butuh dukungan Prabowo untuk menjalankan pemerintahan. Kasarnya, seolah Jokowi akan terseok-seok kalau tanpa Prabowo. Lebih dari itu, narasi yang dijadikan tameng adalah untuk persatuan, agar rakyat tidak lagi terpecah belah.

Andai saya berada di depan orang-orang yang percaya betul bahwa Jokowi dan Prabowo harus bertemu demi persatuan bangsa, saya akan tertawa sekencang-kencangnya sambil bilang “modus!”

Faktanya, masyarakat sudah mulai kembali ke aktifitas masing-masing. Beberapa kalangan yang bertarung kencang pada kampanye lalu, sudah pulang dari liburan panjang. Baik dari kubu 01 ataupun 02 semua sama-sama liburan. Melepas jenuh dan lelah.

Masyarakat sudah mengakui bahwa Jokowi kembali menang dan menjadi Presiden hingga 2024. Sebaliknya, masyarakat juga sadar bahwa Prabowo kalah lagi dan kini lebih telak dari 2014 lalu. Fakta ini didapat dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei kredibel.

Jadi kalau Gerindra masih mengklaim pertemuan Jokowi dan Prabowo dianggap penting demi persatuan dan agar masyarakat tidak terpecah belah, itu hanya sebatas persepsi salah. Hanya akal-akalan agar bisa ketemu Jokowi.

Semua elit dan partai tahu bahwa alasan pertemuan Jokowi dan Prabowo demi persatuan, agar meredam emosi masyarakat akar rumput, hanyalah akal-akalan kubu 02. Mereka sendiri pun tahu itu sudah tidak relevan lagi. Tapi mereka tetap menggunakan alasan tersebut, berharap masyarakat masih bisa dibodoh-bodohi dan percaya begitu saja soal “persatuan.”

Jokowi hari ini bukanlah Jokowi tahun 2014. Dia sudah menjadi Presiden dan paham siapa lawan dan kawan. Posisinya sudah sangat nyaman sehingga tak perlu lagi khawatir dengan serangkaian ancaman. Jokowi begitu tenang menghadapi kerusuhan 22 Mei dengan segala provokasi dan propagandanya. Kamu tau kenapa? Karena biang keroknya sudah dipegang semua.

Jadi menurut kami, yang sudah ya sudahlah. Narasi nakut-nakuti dan ilusi terjadi perpecahan itu sebaiknya dihentikan. Karena kami tahu, narasi tersebut tidak muncul sendirian. Tapi didukung oleh aksi-aksi dan pergerakan yang juga kalian mobilisasi. Pertanyaannya kemudian, mau sampai kapan?

Prabowo sudah kalah di 2014 dan kini kalah lagi. Kalian sudah berpengalaman dalam menghadapi kekalahan. Bahwa kini kalian tak mendapat kunjungan Jokowi lagi, itu pasti karena ulah kalian sendiri.

Jokowi sudah muak dengan klaim kemenangan 62 persen. Jokowi sudah mual dengan seruan provokatif untuk lakukan revolusi dan kudeta. Jadi percuma saja kalian koar-koar di luar sana.

Kalian harus tahu betapa relawan, partai dan seluruh pihak terkait pemilu 2019, sudah gregetan untuk membantah dan melawan klaim kemenangan kalian sejak lama. Tapi karena kami semua tunduk pada instruksi Presiden, kami tetap tenang dan tidak merespon meski kalian sudah berkali-kali lakukan syukuran.

Pesan Jokowipun sangat sederhana, “sabar, tungggu putusan MK.”

Hari ini kita semua belajar tentang sebuah sikap. Bahwa sabar itu ada harganya. Kami yang diminta sabar dalam jangka waktu cukup lama, kini bisa tersenyum melihat kalian semua terkencing-kencing berharap diajak masuk koalisi.

Sekali lagi, ini bukan soal persatuan dan bukannya saya enggan bersatu. Tapi ini sudah menyangkut soal prinsip. Kalian adalah kelompok begitu arogan mengklaim kemenangan, seperti sangat bernyali untuk merebut kekuasaan, tak segan ciptakan kerusuhan dan skenario pembunuhan. Lalu bagaimana mungkin kita bisa bersatu?

Kalaupun Prabowo mau bertemu Jokowi, ya silahkan datang berkunjung. Datanglah sebagai rakyat dan pimpinan partai yang ingin menghadap pada Presiden Indonesia. Sikapnya yang santun. Hormat. Jangan malah bikin narasi ketakutan di kalangan masyarakat.

Karena pada akhirnya percuma saja kalian bikin narasi nakut-nakuti. Sejak saksi-saksi kalian tampil begitu lucu dan bodoh di MK, orang-orang sudah tak peduli lagi. Lalu apa gunanya narasi nakut-nakuti, seolah pertemuan dengan Prabowo ini bisa meredam perpecahan di bawah? Cuma agar Prabowo disanjung sebagai negarawan yang akhirnya menyelamatkan pemerintahan Jokowi? hahaaha ngaca!

Tapi pada akhirnya, jika narasi nakut-nakuti tersebut tetap dilancarkan sampai Prabowo bisa menemui Jokowi, ya silahkan saja. Yang penting kalian harus tahu bahwa kami rakyat biasa sangat tahu modus kalian, dan kami tak sebodoh yang kalian pikirkan.