Ijtima Ulama IV, Acara Penghiburan Diri Seolah Negara Milik Mereka Sendiri -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Ijtima Ulama IV, Acara Penghiburan Diri Seolah Negara Milik Mereka Sendiri

Referensi
Saturday, 20 July 2019

Detik news - Sejumlah organisasi masyarakat seperti Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa atau GNPF Ulama dan Persaudaraan Alumni atau PA 212 menyatakan siap menggelar Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta. "Kemungkian digelar Agustus 2019,” kata Ketua PA 212, Slamet Ma'arif, usai jumpa pers persiapan kegiatan Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta. Dia mengatakan mereka akan berjuang dengan sekuat tenaga agar Ijtima ulama itu berjalan dengan sukses dan lancar. “Apa pun yang diputuskan, kami akan mengikuti dan memperjuangkan hasil Ijtima ulama,” kata Slamet.

Selain itu kata Slamet, semua pendukung organisasi siap memperjuangkan hasil Ijtima hingga di tingkat pengurus bawah. Karena mereka meyakini apa pun yang diputuskan untuk tujuan besar.

Sedangkan menurut Ketua Umum GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak mengatakan rapat tersebut untuk meneguhkan sikap keumatan dan bagaimana menyikapi keadaan situasi saat ini. Khususnya Ormas yang tergabung dalam Ijtima ulama. "Sampai saat ini kami tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi saat ini, terkait peristiwa atau pertemuan apa pun yang dilakukan antar kelompok yang terjadi,” kata Yusuf.

Yusuf menegaskan apa pun hasil Ijtima ulama nantinya, sesuai dengan masukan para ulama, para habib, tokoh nasional serta Rizieq.

Ijtima Ulama ini sebenarnya terpaksa diadakan karena satu atau beberapa hal. Salah satunya untuk membicarakan kepulangan Rizieq ke tanah air. Ini sangat menarik untuk menyimak manuver seperti apa yang akan mereka lakukan untuk mewujudkan itu. Rizieq overstay dan diharuskan membayar denda besar jika ingin pulang. Apakah mereka akan

menggalang dana? Kalau cuma itu, bukan masalah. Yang jadi masalah ada seandainya mereka menggunakan jalur pemaksaan dengan menuding dan memaksa pemerintah bertanggung jawab. Indikasi ini sangat kuat, karena mereka menuding ada upaya pencekalan terhadap Rizieq dan meminta pemerintah membayar dendanya.

Tapi bakal seru juga kalau mereka sampai berani menggunakan cara lama dengan mengerahkan massa. Pemerintah bakal bersikap beda karena sudah tak ada beban lagi. Mungkin takkan segan-segan melibas jika memang nantinya terjadu adu ngotot. Rizieq yang pergi tiba-tiba, sekarang minta pulang, itu pun sangat ribet karena untuk memulangkannya saja sampai harus mengadakan ijtima ulama.

Mau pulang ya pulang aja, kenapa jadi ribet begini? Atau mungkin tidak punya uang? Atau mungkin takut dengan beberapa kasus yang masih belum clear?

Sekretaris Umum DPP FPI Munarman mengatakan Ijtima Ulama keempat bertujuan sekaligus sebagai wadah konsolidasi di kalangan ulama. "Karena bidang politik yang saat ini sangat seksi, makanya akan lebih banyak menarik perhatian. Waktu itu momentumnya bertepatan dengan pemilu khususnya pilpres,” kata Munarman. Dia mengatakan dalam Ijtima Ulama keempat, mereka ingin mengevaluasi terkait seluruh keputusan.

Ijtima ulama ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Ibarat aksi 212 yang mendemo Ahok, tapi tetap dipertahankan kelestariannya lewat aksi reuni 212, atau embel-embel 212 seperti PA 212, atau nama bisnis berbasis tiga angka ini. Memanfaatkan sentimen agama untuk kepentingan tertentu, nyatanya tidak laku juga. Ijtima Ulama ini hanyalah pembenaran agar tetap eksis. Mungkin biar dianggap keren.

Justru dengan diadakannya acara ini, membuat kita berpikir kelompok di balik ini semua adalah kelompok yang merasa sebagai orang penting, apa yang mereka lakukan seolah dapat mengubah arah negara, seolah mereka ini harus menjadi kiblat bagi semua warga.

Usai pilpres, pemerintah sedang sibuk meramu formula dan mengerjakan proses untuk pemilihan menteri pada kabinet mendatang. Sedangkan mereka sibuk mau mengadakan ijtima ulama yang sama sekali tidak penting bagi negara ini, tapi hanya penting bagi kepentingan mereka. Parahnya mereka mau orang lain menganggap ijtima ulama ini sebagai hal besar yang dapat mengubah dunia. Padahal siapa pula yang mau peduli dengan mereka kecuali gerombolannya sendiri.

Mereka sibuk sendiri padahal mereka pula yang sedang kebingungan. Jelas-jelas tujuan mereka bermuara ke politik. Buktinya adalah rekomendasi soal capres dan cawapres pilihan mereka. Dengan menggunakan agama, mereka terjun ke politik yang jelas-jelas merupakan hal duniawi. Aneh, kan? Ulamanya pun tidak mewakili seluruh Indonesia apalagi dunia internasional. Hanya yang sejalan dengan kelompok mereka saja.

Sangat penasaran menebak akan sampai seri ke berapa ijtima ulama ini.

Bagaimana menurut Anda?

Sumber: Seword.com