PERIKLANAN: Etika, Teori Dan UU Periklanan -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

PERIKLANAN: Etika, Teori Dan UU Periklanan

Referensi
Monday, 22 July 2019



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam perkembangan dunia bisnis dewasa ini, iklan merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dapat digunakan untuk menarik minat konsumen sebanyak-banyaknya terhadap barang atau jasa yang ditawarkan oleh suatu perusahaan. Penekanan utama iklan adalah akses informasi dan promosi dari pihak produsen kepada konsumen. Secara teoritik, iklan merupakan  bentuk penyampaian pesan dalam komunikasi non pribadi yang  mengikuti alur teori yang berlaku pada ilmu komunikasi dan komunikasi massa. Dalam kegiatan periklanan ada juga beberapa teori yang bisa dipahami dan digunakan pegangan da lam kegiatan periklanan tersebut.
      Iklan pada hakikatnya merupakan salah satu strategi pemasaran yang ditawarkan untuk mendekatkan barang yang ditawarkan dijual kepada konsumen, dengan kata lain mendekatkan konsumen dengan produsen. Tujuan akhir dari seluruh bisnis adalah agar barang yang dihasilkan dapat dijual kepada konsumen.Iklan positif merupakan metode yang digunakan untuk membeli barang yang bisa dijual kepada konsumen.
      Kegiatan periklanan ini juga tidak terlepas dari badan hokum dan etika yang harus ditaati oleh para pelaku periklanan khusus di Indonesia. Terkait dengan Pemerintah telah mengatur tata cara beriklan di dalam undang-undang pers di Indonesia, jadi undang-undang dalam periklanan ini harus selalu dijaga dalam bahasa Inggris. -undang tang telah ditentukan oleh pemerintah.

B.   Rumusan Masalah
      Rumusan masalah yang akan dibahas dalam pembahasan ini yaitu membahas tentang teoro-teori dalam periklanan dan bagaimana etika yang harus dibahas dalam kegiatan periklanan kemudian apasaja undang-undang dalam periklanan.
       



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi  Dan Teori   Dalam Periklanan
Dalam hal ini yang disetujui periklanan adalah kegiatan atau alat yang mempertahankan dan mengembalikan apa yang telah diupayakan oleh produsen dalam mengenalkan produk yang telah dipresentasikan kepada konsumen yaitu melalui berbagai media yang mendukung untuk menarik minat konsumen, mendukung adalah koran, radio, spanduk, selebaran, acara dan lain sebagainya.Jadi konsumen akan menjadi yakin dengan produk yang telah ditawarkan oleh produsen.
Menurut Arens (dalam Lubis, 2007)) iklan yang diminta sebagai komunikasi informasi yang terstruktur dan disusun bukan oleh perseorangan, biasanya dibayar untuk dan membahas tentang produk (barang, jasa dan ide) yang disponsori sponsor melalui berbagai media. Sementara menurut Tom Duncan (dalam Lubis, 2007) iklan adalah hal yang tidak pribadi, yang diumumkan oleh sponsor yang diterima. Menurut (Blech & Blech) periklana mendefinisikan bentuk pembayaran dari komunikasi tentan nonpersonal sebuah organisasi, produk, layanan atau ide melalui sponsor yang teridentifikasi.
Ada teori yang membahas tentang teori yang bisa kita bahas tentang teoripijakan untuk melihat konsep-konsep iklan. Dari berbagai teori periklanan yang akan membahas sedikit tentang Teori Efek Minimal tentang bagaimana teori ini berasumsi.
B.     Teori Efek Minimal
Anggapan yang dikeluarkan dimasyarakat umum lebih besar dari ada yang positif antara peningkatan biaya pemasangan iklan dengan jumlah produk yang dijual dalam satuan waktu tertentu. Jika biaya pemasangan iklan semakin besar akan semakin besar pula penjualan terhadap produk yang ditawarkan, demikian juga sebaliknya jika biaya pemasangan iklan semakin kecil maka semakin kecil juga volume penjualan atas barang-barang atau jasa tersebut.


Michael Scudson mengemukakan teorinya yang membantah anggapan ini.Menurutnya yang terjadi malah sebaliknya, ada yang negatif antara biaya pemasangan iklan dengan volume penjualan produksi. Semakin besar biaya pemasangan iklan akan semakin meningkatkan volume penjualannya dan sebaliknya semakin kecil biaya yang dikeluarkan untuk pemasangan iklan peningkatan besar volume penjualan. Teori ini kemudian dia panggil dengan “Teori Efek Minimal”.
Contoh; Penjualan narkoba yang merupakan produk berbahaya bagi manusia tetapi tetap laris padahal produk-produk yang tidak pernah ditawarkan melalui media massa untuk khlayak.
Jadi menurut teori efek minimal ini, iklan memberikan efek yang sangat kecil atau efek minimal yang pada saat produk benar-benar sangat dibutuhkan oleh para pembeli dalam kurun waktu tertentu. Demikian “Teori Efek Minimal” ini berasumsi tentang pengaruh iklan terhadap kebutuhan konsumen.
C. Pentingnya Etika dalam   Iklan
Sebelumnya, istilah  Etika  berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu  etos sedangkan bentuk jamaknya yaitu  ta etha . Etos memiliki banyak makna yaitu, tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kebiasaan, kebiasaan atau adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir  Sedangkan arti ta etha adalah  adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika  yang oleh Aristoteles digunakan untuk makna filsafat. Jadi, secara etimologis (asal usul kata),  etika memiliki  makna  tentang ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau  ilmu tentang adat kebiasaan  (K.Bertens, 2000). Dalam kegiatan periklanan juga etika sangat penting untuk dipatuhi dan di jaga oleh setiap periklanan.
Terkait tentang Iklan, Iklan dibagi menjadi dua macam yaitu iklan yang persuasif dan iklan yang informatif. Iklan yang persuasif Biasanya ditemukan pada produk-produk yang bukan kebutuhan umum. Iklan tersebut   menarik untuk menarik hati dan membujuk konsumen untuk membeli produknya. Sementara iklan yang informatif adalah iklan yang menyediakan informasi dan memperkenalkan suatu hal. Namun di dalam dunia periklanan tidak ada yang mengundang iklan murni persuasif atau iklan yang informatif. Iklan selalu mengandung tidak dari antara. Saat mengiklankan   sesuatu, iklan tersebut harus dibuat seinformatif dan semenarik mungkin untuk menarik hati konsumenya.
Berbahasa Indonesia yang merupakan bagian dari identitas bangsa. Melihat yang baik disosialisasikan di kalangan anak muda, figur publik, selebritis dan politikus di negeri ini. Rusaknya kaidah yang disetujui oleh media iklan di media massa, baik media cetak maupun elektronik. Penggunaan bahasa dan penggunaan bahasa asing dalam periklanan di Indonesia sudah sangat banyak ditemui. Akan tetapi menggunakan bahasa asing Menjadi tren dalam periklanan. Bahasa yang berlebihan menurut saya juga tidak baik karena di Indonesia tidak banyak masyarakat yang mengerti bahasa asing.
Industri periklanan merupakan suatu kebutuhan komunikasi dan pemasaran dunia. Usaha periklanan akan berpartisipasi dalam pembangunan sesuai cita-cita dan falsafah bangsa. Oleh karena itu periklanan di Indonesia harus senantiasa aktif, positif dan kreatif dan harus menjunjung tinggi kaidah dalam berbangsa. Hal itu sebagai pemicu pembangunan di Indonesia sendiri. Periklanan harus beretika dan sesuai dengan nilai luhur bangsa ini. Periklanan di Indonesia. Tidak Hanya Diperoleh dari Pembangunan Ekonomi Dunia. Namun, iklan harus mengimbangi pengaruh negatif dalam iklan tersebut yang mungkin saja akan timbul. Antara iklan satu sama lain harus saling menghormati agar tercipta periklanan yang sehat, jujur ​​dan bertanggung jawab.
Dibalik jumlah iklan yang ditawarkan ternyata menyimpan suatu etika dalam beriklan. Iklan di Indonesia banyak masalah terhadap konsumen bahkan pembodohan. Semakin berkembangnya iklan di Indonesia maka semakin banyak kesulitannya. Oleh karena itu, periklanan di Indonesia khusus harus meminta etika dalam iklan karena sangat penting meminta kaidah dan etika dalam percakapan karena akan mempengaruhi produk itu sendiri.







  

D.    Iklan Harusnya Yang Mendidik
Dalam periklanan, etika dan persaingan yang sehat sangat diperlukan untuk menarik konsumen. Karena dunia periklanan yang sangat penting bagi ekonomi negara. Sudah keluar iklan di Indonesia khusus itu bermoral dan beretika.Berkurangnya etika dalam beriklan membuat banyak orang kususnya dikalangan masyarakat dan konsumen. Tidak ada etika dalam beriklan akan sangat merugikan bagi masyarakat, selain itu juga bagi ekonomi pada negara dengan tidak sadar iklan yang tidak beretika akan mengubah nama mereka sendiri bahkan negaranya sendiri. Saat ini banyak kita jumpai iklan-iklan di media cetak dan media elektronik menyindir dan menjelek-jelekkan produk lain. Memang iklan tersebut menarik, namun sangat tidak pantas karena merendahkan produk saingannya.
Di Indonesia, iklan-iklan yang dibuat sesuai dengan budaya kita dan bisa memberikan pendidikan bagi banyak orang. Banyak sekali iklan yang tidak beretika dan tidak sepantasnya untuk iklankan. Makin tinggi tingkat persaingan yang menyebabkan produsen lupa atau malah pura-pura lupa apa yang harus beretika. Banyak sekali yang melupakan etika dalam beriklan. Iklan sangat penting dalam menentukan posisi suatu produk. Sekarang ini banyak ditemukan iklan yang terlalu vulgar dan pembohong dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
Iklan yang ditawarkan kepada masyarakat umumnya tidak mendidik. Sifat iklan menunjukkan sifat yang menunjukkan sifat matrealisme, konsumerisme dan hedonisme. Iklan yang disampaikan menghargai mengutamakan prinsip kebenaran. Sesuatu yang disampaikan memang benar-benar terjadi. Banyak produk yang memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, namun dalam pengiklanan terhadap masyarakat di manipulasi sehingga terlihat sempurna di mata konsumen.
Berbagai pertimbangan berikut yang berkaitan dengan etika contohnya sebagai berikut:
·      Iklan yang berhasil tidak mendidik
     Beberapa iklan banyak yang tidak memberikan nilai edukasi kepada masyarakat. Banyak sekali iklan-iklan yang tidak logis. Banyak juga iklan yang menojolkan seksualitas dan kekerasan dalam penayangannya. Iklan tidak layak untuk disetujui.
·      Iklan yang membantah produk lain
     Banyak produk iklan yang menentang produk lain, biasanya produk ini sejenis.Tentunya tindakan ini sangat tidak etis dan tidak dilakukan karena tindakan tersebutakan  merugikan pihak lain.

E.  Makna Etika dan Estetika Dalam Iklan
Fungsi iklan yang  pada akhirnya membentuk citra sebuah produk dan perusahaan di mata masyarakat. Citra dibuat sesuai kesesuaian antara produk yang ditawarkan dengan informasi yang disampaikan dalam iklan tersebut, Prinsip etika dalam bisnis yang paling relevan dalam hal ini adalah nilai kejujuran dalam iklan.Dengan demikian, iklan yang membuat pernyataan salah atau tidak benar dengan maksud memperdaya konsumen adalah tipuan semata.

Ciri-ciri iklan yang baik:
·         Etis, yaitu membaca dengan kepantasan dalam menampilkan iklan kepda masyarakat.
·         Estetis, seperti yang dibicarakan dengan, target pasar, target audiennya, kapan harus ditayangkan ?.
·         Artistik, adalah yang dimaksud dengan demikian meminta daya tarik khalayak yang melihat iklan tersebut.

Contoh Penerapan Etika dalam Periklanan:
·         Iklan rokok, yaitu dengan tidak menampakkan secara eksplisit orang yang sedang merokok.
·         Iklan pembalut wanita, yaitu dengan tidak membantunya dengan menantang dengan wanita yang mendapatkan kepercayaan tersebut.
·         Iklan sabun mandi, yaitu dengan  tidak lengkap dengan orang mandi penuh.
Etika secara umum:
·         Jujur, yaitu tidak sesuai konten yang tidak sesuai dengan produk yang diiklankan.
·         Tidak membahas konflik dan sara SARA.
·         Tidak mengandung pornografi di dalamnya
·         Tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
·         Tidak dapat dihapus etika bisnis, contoh: saling menjatuhkan produk tertentu dan sebagainya.
·         Tidak menjiplak atau memberlakukan iklan produk lain.

F.     Hukum dan  Undang-Undang Periklanan di Indonesia
1.   UUPK
UUPK undang-undang yang berlaku tentang periklanan di Indonesia. Tujuan dari persetujuan konsumen adalah sebagai berikut:
·         Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.
·         Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif penggunaan barang dan / atau Jasa.
·         Meningkatkan pemberdayaan konsumen daalm memilih menentukan dan meminta hak-haknya sebagai konsumen.
·         Menciptakan sistem yang mendukung konsumen yang mengandung ketidak kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.
·         Menumbuhkan kesadaran akan usaha yang menyangkut kepentingan konsumen yang tumbuh dalam sikap yang jujur ​​dan bertanggung jawab dalam berusaha.
·         Meningkatkan kualitas barang dan / atau jasa yang menjamin keselamatan produksi barang dan / atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.

2.   Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang PERS
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang PERS (untuk selanjutnya disebut UU Pers) adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melibatkan kegiatan jurnalistik, mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan mengolah informasi yang baik dalam bentuk tulisan , suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik serta dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.




Dalam hal ini peran pers untuk memenuhi kebutuhan konsumen salah satunya adalah melalui iklan. Namun, iklan ini harus diberikan kepada pelanggan, akurat dan benar.
Perusahaan iklan oleh UU dikeluarkan untuk:
·         Menyerahkan iklan yang dapat dilihat pada suatu tempat dan / atau kerukunan hidup antar umat beragama dan juga bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat.
·         Berlangganan iklan minuman keras, narkotika, psikotropika dan zat aditif lainnya tidak sesuai dengan ketentuan peraturan undangan yang berlaku.
·         Iklan iklan dengan peragaan rokok dan / atau penggunaan rokok.

3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran
Penyiaran dapat dilakukan hanya melalui penyiaran, yang diselenggarakan dalam suatu lembaga penyiaran. Penyiaran menurut Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran (untuk selanjutnya disebut UU Penyiaran) adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan / atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan gelombang elektromagnetik, kabel, serat optik dan / atau media lain untuk daat diterima oleh masyarakat dengan pesawat penerima siaran radio dan / atau pesawat penerima siaran televisi atau perangkat elektronik lainnya dengan atau tanpa alat bantu.
Sementara pengertian siaran sesuai dengan Pasal 1 butir 2 UU Penyiaran adalah pesan atau susunan pesan dalam bentuk suara, gambar atau suara dan gambar atau gambar bentuk dan gambar lain yang dapat diterima melalui pesawat penerima siaran radio, televisi atau perangkat elektronik lainnya, baik yang interaktif juga tidak, dengan atau tanpa alat bantu.







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam periklanan kita tidak dapat lepas dari teori yang diterapkan, etika, hokum dan undang-undang yang berlaku. Di mana ada iklan itu sendiri memuat pokok-pokok bahasan yang membahas reaksi masyarakat khusus di Indonesia tentang sebuah  iklan yang dapat dilihat sebagai kasus etika dalam periklanan.Sebuah perusahaan harus memperhatikan etika dan estetika dalam sebuah iklan dan terus memperhatikan hak-hak konsumen dan apa yang akan didapat dengan adanya iklan tersebut.
Maka demikian, percayakan etika dalam kegiatan periklanan ini penting karena dengan terciptanya iklan-iklan yang baik dan mendidik maka akan baik pula pencitraan periklanan khusus di Negara Indonesia yang dengan penduduknya diperlukan dari berbagai suku dan bahasa.

B.     Saran
Dalam publikasi ini penulis memberikan saran yaitu dalam bisnis periklanan perlulah kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan ini sehingga tidak merugikan konsumen. Sebuah perusahaan harus memperhatikan kepentingan dan hak - hak konsumen, dan tidak hanya menerima keuntungan semata.












DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Tania Fatima. 2007. Teori-teori periklanan dan unsure periklanan.Universitas Indonesia: Depok
Shimp, Terence A. Promosi Periklanan Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Erlangga: Jakarta
Kusuma Aris, Etika Bisnis (Etika Dalam Iklan). Universitas Negeri Malang, 2014
www. Google.co.id/undang-undang Periklanan di Indonesia di akses pada 07 september 2015.