MIRIS, 7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

MIRIS, 7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Referensi
Tuesday, 14 January 2020
BRITA10 | Selama terjadinya Perang Dunia II, Negara-negara yang terlibat perang telah menghancurkan beberapa situs budaya penting di Eropa dan Asia seperti pada tahun 1942 ketika pasukan NAZI meratakan Royal Opera House di Valetta, Malta. Sementara pada tahun 1945, Amerika Serikat melubangi Aula Promosi Industri Prefektur saat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Jepang.

Meskipun situs-situs ini tidak sengaja untuk dihancurkan, respons atas kehancuran ini adalah dibentuknya Konvensi Den Hag pada tahun 1954 yang bertujuan untuk melindungi properti budaya dalam acara konflik bersenjata. Kemudian komunitas internasional memperkuat perlindungan ini pada tahun 1977 dengan protokol tambahan pada Konvensi Jenewa tahun 1949 yang pada Pasal 53 dari protokol ini melarang segala tindakan permusuhan yang diarahkan terhadap monumen bersejarah, karya seni atau tempat ibadah yang merupakan warisan budaya menurut perjanjian internasional ini, menargetkan situs budaya adalah kejahatan perang.


Namun hal ini bukan berarti bahwa kelompok-kelompok militer di beberapa negara telah berhenti melakukannya. Dalam beberapa tahun belakangan ini aksi perang dan teroris telah banyak menghancurkan situs budaya penting di Eropa Timur, Timur Tengah dan juga Afrika Barat.

Berikut 7 situs budaya penting yang hancur karena perang.

1. Kota Tua Dubrovnik, Kroasia

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Kota tua Dubronik di Kroasia mulai dibangun pada abad ke-7 ketika Bangsa Romawi dan Slavia mulai menetap di pantai Laut Adriatik tumbuh menjadi kekuatan kota perdagangan utama yang pada abad-19, Lord Byron menjulukinya "Mutiara Adriatik". Sementara pada tahun 1979, Organisasi Pendikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB atau UNESCO menunjuk Kota Tua Dubrovnik di Kroasia sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Namun pada tahun 1991 dan 1992, Kota ini mengalami kerusakan parah selama terjadinya Pengepungan Dubrovnik bagian dari Perang Yugoslavia. Lebih dari dua pertiga bagian Kota Lama dihantam oleh proyektil dan kebakaran.  Pada tahun 2005, Pengadilan Kejahatan Internasional menghukum mantan jenderal Yugoslavia Pavle Strugar dengan hukuman 8 tahun penjara karena kejahatan perangnya.

2. Balai Kota Sarajevo, Bosnia

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Balai Kota Sarajevo yang bersejarah atau Vijecnica dari Sarajevo dibangun pada tahun 1890-an yang arsitekturnya terinspirasi dari desain Islam Arsitektur Mamluk yang telah berkembang antara abad ke-13 hingga abad ke-16 di Kairo, Mesir pada tahun 1949, kota mengubahnya menjadi Perpustakaan Nasional.

Namun pada tahun 1992, Vijecnica hancur terbakar dalam sebuah Pengepungan di Sarajevo. Hampir dua juta buku hancur ternakar. Namun setelah direnovasi, Pada tahun 2014, Perpustakaan Nasional ini dibuka kembali untuk umum.

3. Buddha Bamiyan, Afganistan.

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Buddha Bamiyan dulunya adalah Monumen Buddha Tertinggi Di Dunia yang diukir disisi tebing pada abad ke-6. Patung Buddha setinggi 170 meter dikenal sebagai situs suci yang pada tahun 629 masehi, wisatawan Tiongkok Xuanzang menggambarkan puluhan ribu biksu berkumpul di dekat patung.

Tetapi pada tahun 2001, Taliban telah menghancurkan Patung Buddha Bamiyan ini dengan cara membom mereka dalam beberapa minggu. Kehancuran itu mengikuti perintah pemimpin spiritual Mullah Muhammed Omar yang memerintahkan untuk penghancuran patung-patung berhala di Afganistan.


4. Masjid Djinguereber dari Timubuktu, Mali

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Kekaisaran Mali telah membangun Masjid Djinguereber di Timbuktu pada masa pemerintahan Mansa pada abad ke-14. Masjid ini terbuat dari tanah dan kayu yang ditumbuk dan masih merupakan bagian penting dari kehidupan kota saat ini.

Namun masjid mengalami kerusakan parah pada tahun 2012 ketika anggota kelompok militan Ansar Dine menyerang kota. Kelompok itu telah merusak dua makam Djinguereber bersama dengan tempat-tempat suci Islam di kota yang oleh orang Ansar dianggap sebagai agama. Pada tahun 2016, Ahmad Al-Faqi al-Mahdi mengaku bersalah merusak situs budaya penting ini di Pengadilan Kejahatan Internasional.

5. Masjid Agung Aleppo, Suriah

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Masjid Agung Aleppo dibangun antara abad kedelapan hingga 13 yang diyakini berisi sisa-sisa peninggalan Nabi Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis. Masjid Agung Aleppo adalah salah satu masjid tertua dan terbesar di Aleppo yang terletak di dalam tembok kota tua.

Menara Masjid Agung yang dibangun pada abad ke-11 telah hancur di tengah pertempuran perang saudara Suriah pada tahun 2013 lalu. Masih belum jelas apa yang menyebabkan runtuhnya menara, tetapi pada saat itu masjid dikuasai oleh pasukan anti-pemerintah. dan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menyalahkan kerusakan menara masjid pada pejuang dari kelompok yang terkait dengan al-Qaeda. Sementara itu pemberontak mengklaim situs budaya penting ini rusak akibat tembakan tentara Suriah yang datang.

6. Kuil Bel di Palmyra, Suriah

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Kuil Bel adalah situs keagamaan utama di kota kuno Palmyra yang dibangun pada abad pertama di Suriah. Kuil ini dipersucikan untuk Dewa Mesopotamia Bel yang berisi 1.000 kolom, lebih dari 500 kuburan dan saluran air Romawi.

Pada tahun 2015, apa yang disebut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) meratakan kuil berusia 2.000 tahun. Dalam serangan itu juga menghancurkan Kuil Baalshamin, situs kebudayaan penting lainnya yang ada di Palmyra.


7. Gerbang Niniwe, Irak

7 SITUS BUDAYA PENTING INI HANCUR KARENA PERANG

Kota Niniwe Assyria kuno berasal dari abad ke-7 SM. Kota ini secara historis dijaga oleh tembok dan beberapa gerbang. Dua dari gerbang yang menonjol adalah Gerbang Adad dan Gerbang Mashki yang juga dikenal sebagai "Gerbang Tuhan".

Pada tahun 2016, ISIS menghancurkan kedua gerbang ini sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan melawan situs budaya penting dan peninggalan di Irak.           

   
Editor: Mahessa Rey
Sumber: History.com