Astronot Perempuan Pertama Indonesia dan Asia -->

Iklan Semua Halaman

970px x 250px

Iklan

Astronot Perempuan Pertama Indonesia dan Asia

Referensi
Saturday, 11 July 2020
Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama Indonesia dan Asia yang Gagal ke Luar Angkasa Gegara Peristiwa Challenger Tahun 1986

Jika pada masa sebelum kemerdekaan, RA Kartini membuktikan bahwa seorang wanita tidak hanya bisa mengurus rumah tapi juga bisa mendunia dengan karya-karyanya.

Di era tahun 1980-an sosok wanita yang satu ini membuktikan bahwa wanita Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata.

Bahkan dirinya menjadi kandidat Astronot wanita pertama di Indonesia namun juga di Benua Asia kala itu.

Kecerdasan wanita ini diakui oleh lembaga antariksa dunia (NASA) kala itu hingga dirinya sempat akan diterbangkan ke luar angkasa.

Pratiwi Pujilestari Sudarmono, mungkin terdengar asing bagi kalangan anak muda tanah air saat ini.

Namun namanya wanita yang juga salah satu pengajar di Universitas Indonesia kala itu bukanlah sosok sembarangan.

Bila tak ada insiden meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada 28 Januari 1986 kala itu mungkin pandangan Indonesia mengenai ilmu pengetahuan tentang luar angkasa akan berubah 180 derajat sampai saat ini.

Pratiwi memang dikenal sebagai salah satu peneliti wanita terbaik di Indonesia bahkan dunia kala itu.

Pratiwi Sudarmono, salah satu ilmuwan Indonesia yang pernah terlibat proyek dengan NASA.

Meskipun gagal untuk mengudara ke luar angkasa, Pratiwi tetap disebut sebagai astronot wanita pertama di Indonesia bahkan Asia.

Bahkan sampai saat ini belum ada wanita asal Indonesia yang bisa menyamai pencapaian Pratiwi.

Pengajar di salah satu universitas terbaik di Indonesia saat itu dijadwalkan terbang ke antariksa membawa satelit Palapa B3 dari pusat peluncuran roket di Florida, AS.

Tetapi insiden yang menewaskan para astronot yang mengemudikan pesawat Challenger saat itu membuat Pratiwi gagal mengudara.

Ya, insiden Challenger waktu tersebut membuat impian Pratiwi untuk bisa menginjakkan kakinya di luar bumi itu pupus.

Bahkan NASA kala itu harus mengangguhkan perjalanan ke luar angkasa selama tiga tahun.

Melansir dari Harian Kompas (9 Juli 1987), Pratiwi terpilih menjadi antariksawan Indonesia pada bulan November 1985.

Saat itu, Pratiwi sedang disibukkan menggarap sebuah proyek yang mengembangkan teknologi penyelidikan DNA.

Peristiwa meledaknya pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986

Saat itu rencananya Pratiwi akan berangkat ke antariksa pada bulan Juni 1986 bersama astronot dari Inggris.

Keberangkatan Pratiwi tersebut adalah untuk mengawal peluncuran satelit Palapa dan mengerjakan eksperimen ilmiah lainnya.

Sebelum menjalankan tugas negara kala itu Pratiwi harus menjalani pemusatan latihan yang cukup ketat di Amerika Serikat (AS).

"Selama ini saya menjaga kesehatan," kata Pratiwi kepada Harian Kompas.

Namun impian untuk menjadi wanita Indonesia dan Asia pertama yang menginjakkan kaki di luar angkasa harus pupus lima bulan sebelum Pratiwi naik pesawat Ulang-alik.

Ahli mikrobiologi dari Universitas Indonesia itu gagal mengudara lantaran salah satu pesawat luar angkasa yang diberi nama Challenger milik AS dengan misi STS-51-L, meledak di udara hanya 73 detik setelah lepas.

Pesawat ulang-alik itu meledak di ketinggian 15 atau 16 kilometer di atas permukaan bumi dengan disaksikan ribuan orang termasuk keluarga astronot yang berada di dalam pesawat kala itu.

Insiden itupun menewaskan tujuh orang astronot di dalam pesawat yang dinyatakan meninggal dunia.

Padahal peristiwa penting itu disiarkan secara langsung melalui saluran televisi di seluruh dunia.

Meski demikian, Pratiwi tetap mengukirkan prestasi dan banyak dikenal oleh publik serta menjadi idola kaum muda.

Bahkan pada tahun 1988, Pratiwi mndapatkan gelar sebagai peneliti terbaik UI.

Diketahui Pratiwi ternyata juga aktif dalam kegiatan riset dan manajemen birokrasi pada saat itu.

Mengutip dari Harian Kompas (27 Januari 1991), Pratiwi telah menghabiskan waktunya di Laboratorium yang dikembangkan dengan dana Bantuan Presiden yang sering ia sebut sebagai "Laboratorium Indah".

Banyak riset yang dilakukannya di laboratorium itu, seperti pengembangan kit diagnostik untuk demam berdarah. (*)